SCARFEST : DEAD OR ALIVE?

      No Comments on SCARFEST : DEAD OR ALIVE?

Minggu (14/5/2017) di Graha Wisata Niaga telah berjalan rangkaian akhir dari Scarta Festival IV. Acara yang telah dikabarkan mundur terkait rencana awalnya ditanggal 4 Maret 2017 ini cukup menggetarkan gedung Graha Wisata Niaga sejak dimulainya acara pukul 18.25. Secara keseluruhan acara ini berjalan cukup lancar dan cukup meriah.

Acara ini dibuka dengan penampilan pertama dari Lobe Temporalis, dilanjutkan oleh Vibe, setelah itu para peserta yang hadir berhasil disyahdukan dengan lagu-lagu mellow dari Guest Star utamanya, Adhitya Sofyan, dengan tembang yang paling nge-hits-nya “Adelaide Sky”. Setelah itu ada penampilan dari sepasang suami-istri pemusik yang tampil dengan elegan dan memukau, Endah n Rhesa, dengan lagu galau andalannya “When You Love Someone”. Setelah 2 pemusik pop tersebut tampil, penampilan dilanjutkan oleh band ber-genre heavy metal Inarifox dan Kmzeronine, selanjutnya gedung digetarkan dengan penampilan terakhir dari band beraliran rock papan atas, Seringai.

Ketua Pelaksana dari acara ini, Ramdan (21) mengatakan bahwa Scarta Festival adalah ajang pendekatan diri oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran khususnya di bidang seni musik, baginya acara ini adalah prestasi dari panitia Scarfest IV di bidang musik. Acara ini terdiri dari beberapa rangkaian, pertama ada band competition yang pemenangnya tampil di acara pertama Scarfest, Lobe Temporalis, lalu ada lomba fotografi yang diadakan di sosial media, selain itu ada pre-event berupa Tribute : Rock The Eighties dengan artis-artis pilihan Guns n Roses dan Godbless. Setelah itu puncak dari rangkaian acara tersebut adalah konser musik yang diadakan minggu silam.

“Jadi kalau ditanya apa udah sesuai dengan konsep? No, belum, masih jauh dari konsep awal kita” tutur Ramdan.

Ramdan (21) menambahkan  bahwa acara ini melenceng jauh dari awal yang diinginkan panitia. Cukup banyak perubahan konsep dari awal sampai akhir keberjalanannya. Dari awalnya mengambil konsep outdoor, berubah menjadi festival. Dari rencana awalnya ingin diadakan November 2016 akhirnya terpaksa diundur menjadi Maret 2017 setelah berbincang dengan Presiden BEM Fakultas Kedokteran saat itu, Abdurrahman Afa. Presiden BEM FK yang akrab disapa Mas Maman ini memohon untuk menggabungkan Scarta Festival IV dengan Grand Closing Solo Medical Cup (SMC) 2017. Namun akhirnya rencana ini tidak berjalan lancar karena ketidakjelasan informasi dan lemahnya koordinasi. Ditambah lagi, karena banyaknya panitia Scarfest IV yang tergabung juga dalam kepanitiaan SMC 2017, membuat banyaknya panitia yang keluar dari kepanitiaan Scarfest IV. Dari awal terbentuk kepanitiaaan, panitianya berkisar 180-an terpaksa menyusut menjadi 60. Selain itu, acara yang rencananya dilaksanakan 4 Maret 2017 ini terpaksa harus mundur menjadi 14 Mei 2017 karena masalah perizinan. Tentunya kemunduran ini menyebabkan banyak perubahan terutama di konsep awal. Bahkan karena mundurnya acara ini salah satu guest star menarik diri untuk tampil, selain itu dikarenakan sudah terlaksananya Memorandum of Understanding (MOU) dengan pihak guest star, panitia juga terpaksa harus membayar kerugian yang ditaksir sekitar 40 juta rupiah.  “Jadi kalau ditanya apa udah sesuai dengan konsep? No, belum, masih jauh dari konsep awal kita” tutur Ramdan.

Koordinator Sponsorship dari Scarta Festival IV ini, Zulfan (22) juga menyebutkan bahwa acara ini masih dibawah harapan, mulai dari perubahan konsepnya, target pesertanya, sampai antusiasme mahasiswa FK yang juga masih kurang. Target peserta yang awalnya 2000 orang, masih belum terpenuhi karena data terakhir yang masuk dari kestari sekitar 700-an. Selain itu dari segi sponsorship juga banyak mengalami perubahan bersamaan dengan berubahnya konsep acara, beberapa sponsor mundur dari acara meskipun beberapa sponsor juga masih bertahan.

Zulfan mengatakan terkait keberjalanan sponsorship di tengah-tengah sempat diajak bekerjasama dengan sponsor dari perusahaan rokok. Perusahaan rokok tersebut sempat menawarkan sponsor berupa fresh money dan produk dengan jumlah cukup besar. Selain itu, Ramdan menambahkan perusahaan tersebut juga menawarkan media publikasi besar-besaran berupa baliho dan spanduk, kegagalan dalam menggait publikasi ini berimplikasi juga pada sedikitnya peserta.

“Meskipun secara moral panitia sadar bahwa dengan menerima tawaran tersebut, panitia telah melawan idealisme mereka sendiri sebagai mahasiswa fakultas kedokteran”

Pihak panitia tadinya sempat mempertimbangkan beasiswa dari perusahaan rokok, dengan berusaha sebisa mungkin meminimalisir kegiatan penjualan rokok atau membiarkan nama perusahaannya menempel di spanduk atau publikasi Scarfest IV, karena biasanya kegiatan konser musik dari Perusahaan Rokok mempunyai nama dan brandingnya sendiri. Panitia sempat ingin menerima tawaran sponsor dari perusahaan rokok tersebut. Meskipun secara moral panitia sadar bahwa dengan menerima tawaran tersebut, panitia telah melawan idealisme mereka sendiri sebagai mahasiswa fakultas kedokteran. Pada awalnya dari pihak dekanat sempat menyetujui terkait keadaannya yang sudah terpojok.  Namun kembali lagi karena acara ini milik Fakultas Kedokteran, akhirnya keputusan ini dikembalikan ke Keluarga Besar Mahasiswa Fakultas Kedokteran (KBM FK). Sayangnya, KBM FK yang diwakili oleh ketua-ketua ormawa ini menyatakan menolak tawaran sponsorship dengan perusahaan rokok “Makanya emang sulit gitu loh untuk membuat mereka mikirin apa yang kita pikirin, apa yang kita prioritasin, tapi untuk menjadi mereka yang memikirkan masalah moril, itu mudah buat kita untuk merasakannya juga, karena sebenernya kita juga gak mau untuk pakai sponsor rokok.” Tutur Ramdan.

Setelah melalui permusyawaratan panjang antara KBM FK dengan pihak dekanat, dan panitia, akhirnya panitia memutuskan untuk tidak menerima tawaran sponsorship dari perusahaan rokok. Karena kembali lagi panitia beranggapan bahwa Scarta Festival IV adalah acara fakultas kedokteran dimana panitia harus menghargai keputusan yang datang dari pihak fakultas. Ramdan juga sangat bersyukur karena dari pihak dekanat, dan teman-teman fakultas kedokteran sangat mengerti dan memberikan solusi terkait tidak disetujuinya tawaran dari sponsor rokok.

Ketika menyerah, sakit itu bertahan selamanya.”

Tentunya dalam keberjalanan kepanitiaan Scarta Festival IV, banyak sekali lika-liku yang harus dihadapi oleh pihak panitia. Bahkan di akhir pihak panitia tetap bertahan dengan pilihan tidak menggunakan sponsor dari perusahaan rokok karena itu bertentangan dengan nilai-nilai kita sebagai mahasiswa fakultas kedokteran, orang-orang yang kelak bekerja di bidang kesehatan. Dari beratnya perjuangan yang dihadapi teman-teman panitia Scarta Festival IV serta kegigihan mereka untuk tetap mengadakan Scarta Festival IV ini, kita dapat belajar satu hal bahwasannya “Sakit dalam perjuangan itu hanya sementara, bisa jadi semenit, sehari, seminggu, sebulan atau setahun, tapi ketika menyerah, sakit itu bertahan selamanya.”

Lalu ketika ditanya apakah Scarfest ini tetap “hidup” dan akan dilanjutkan tahun depan dengan segala kontroversialnya di tahun ini? Dengan singkat, Ramdan menjawab “To be continued”. Sementara dokter Paramasari Dirgahayu ketika ditanya mengenai apakah Scarfest ini layak dilanjutkan tahun depan atau tidak, beliau menjawab dengan optimis “Ya, acara ini bagus untuk dilanjutkan.”

Apapun keputusannya kelak, sebagai mahasiswa fakultas kedokteran kita harus menghargai dan mendukung acara apapun yang dimiliki oleh mahasiswa FK, tidak hanya Scarfest, tapi acara-acara lain kedepannya yang dimiliki dan akan diadakan oleh KBM FK. (tyo)

Vibes

Adhitya Sofyan

Endah n Rhesa

Lobe Temporalis

Seringai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *